Minggu, 20 Februari 2011

SULITNYA MEREFORMASI PSSI

Baru saja saya mendengarkan perbincangan di sebuah televisi swasta nasional mengenai bursa calon ketua umum PSSI dan saya tergelitik untuk sedikit berkomentar mengenai hal tersebut. Seperti kita tahu, dari empat calon yang maju, hanya dua yang akhirnya lolos dari tim verifikasi. Dua orang tersebut adalah muka-muka lama yaitu NH dan NB, sedangkan dua calon yang gugur ialah GT dan AP.

Sekilas keputusan tersebut terasa janggal bagi kita yang menginginkan adanya reformasi dalam tubuh PSSI. Sudah bukan rahasia jika sebagian masyarakat tidak menyukai sosok NH, yang sempat terganjal kasus hukum dan beberapa kebijakan kontroversialnya selama mempimpin PSSI. Apalagi NH juga dekat dengan salah satu partai politik di Indonesia, dan itu tidak berbeda dengan satu-satunya pesaingnya kini. Namun ketika pihak-pihak yang berkepentingan muncul (minus wakil dari balon yang gugur), saya menjadi tahu bahwa tim verifikasi sebenarnya telah bekerja dengan baik (menurut saya) kecuali keengganannya menjelaskan alasan tidak lolosnya GT dan AP.

Saya akan memulai dengan pernyataan Profesor Tjipta Lesmana, yang dalam perbincangan tersebut datang sebagai ketua komite banding yang mengatakan bahwa induk organisasi sepakbola dunia (FIFA) merupakan organisasi olahraga paling unik karena FIFA begitu independen dalam mengelola aturan main. FIFA tidak menginginkan adanya intervensi dari pihak lain, sekalipun itu berasal dari pemerintah.

Sayangnya independensi yang digadang-gadang FIFA terkesan naif karena dalam prakteknya FIFA merupakan organisasi yang sangat otoriter. Setiap induk organisasi sepakbola di seluruh dunia harus mengikuti statuta FIFA. Masih segar dalam ingatan kita induk organisasi sepakbola di Irak pernah dibekukan karena ada campur tangan pemerintahnya. Hal tersebut seolah membuktikan berkuasanya FIFA.

Dalam statuta FIFA, yang dikuatkan oleh hukum pemilihan versi FIFA ditambah statuta PSSI telah dijelaskan mengenai syarat-syarat dalam menentukan calon ketua umum, diantaranya pernah aktif dalam organisasi sepakbola dalam 5 tahun, yang kemudian dijelaskan sebagai pernah/sedang aktif dalam organisasi yang menjadi anggota PSSI. Yang disebut anggota sendiri adalah perwakilan asosiasi (asosiasi pemain putra, asosiasi pemain putri, asosiasi klub, asosiasi pelatih, dan asosiasi wasit) yang di Indonesia belum terbentuk serta perwakilan klub yang berasal dari divisi 3 hingga super liga. Syarat lain ialah tidak sedang menjalani proses hukum (saya sempat mendegar desas-desus bahwa statuta FIFA sebenarnya menyatakan “tidak pernah menjalani proses hukum” bukan “sedang tidak” seperti yang tercantum dalam statuta PSSI).

Dari syarat-syarat yang ada, menurut saya sudah jelas alasan AP dan GT tidak lolos verifikasi karena mereka tidak terdaftar sebagai anggota PSSI. Seperti kita ketahui GT hanya aktif di klub PSAD (Angkatan Udara) yang merupakan klub internal Persija Jakarta dan dianggap oleh tim verifikasi bukan sebagai anggota, sedangkan AP selain hanya turut serta mengorganisasi piala Medco (kompetisi usia muda, bukan klub anggota), juga dianggap berdosa karena karena menggulirkan liga tandingan (PSSI menghukum seluruh orang yang berkecimpung dalam LPI).

Saya rasa bursa pemilihan ketua umum PSSI telah habis, dan kita tidak akan melihat sosok anyar yang memimpin PSSI dalam empat tahun mendatang. Kecuali, tim kuasa hukum GT mempu membuktikan bahwa PSAD yang merupakan klub internal Persija Jakarta diakui sebagai anggota (paling tidak mendompleng Persija sebagai induknya). Sedangkan bagi AP, saya berharap komite banding mampu mempertimbangkan perannya dalam Piala Medco sehingga dianggap pernah/sedang aktif dalam organisasi olahraga, selain tidak menghukumnya karena orang LPI.

Saya jadi teringat, ketika GT mendeklarasikan diri menjadi bakal calon ketum PSSI, NH terlihat santai bahkan welcome. Tadinya saya mengira itu cuma untuk menutupi ketakukan NH karena dia mendapatkan pesaing, dan seolah-olah menunjukkan bahwa PSSI merupakan organisasi yang demokratis. Ternyata ketika sudah masuk verifikasi, barulah saya tahu jika NH telah memperhitungkan semuanya, bahkan memperhitungkan jika GT tidak akan mampu lolos verifikasi karena terganjal salah satu syarat.
PSSI memang menjalankan peraturan sesuai statutanya, namun jika ternyata peraturan itu telah dibuat sedemikian rupa sehingga ada beberapa pihak yang tidak bisa ikut berkompetisi, apakah masih layak disebut demokratis?

Nah, ternyata susah juga kan mereformasi PSSI karena aturan main tidak memberikan kesempatan adanya perubahan dari luar, sedangkan orang dalam sudah nyaman dengan keadaan saat ini. Tiga klub anggota PSSI yang sebenarnya berpotensi menyuarakan reformasi juga telah dicoret keanggotaannya karena membelot ke kompetisi LPI yang dianggap ilegal. Sementara itu legitimasi yang didapat PSSI berasal dari klub-klub anggota PSSI, dan klub anggota PSSI kedudukannya bukan sebagai wakil masyarakat.
Walaupun susah, bukan berarti reformasi menjadi hal yang mustahil. Menurut saya, ada beberapa cara menghentikan rezim yang berkembang saat ini. Cara pertama yang bisa menghasilkan perubahan cepat ialah intervensi dari pemerintah. Ini memang melanggar statuta FIFA dan Indonesia berpotensi dibekukan dari keanggotaan FIFA. Namun jika dengan cara ini sepakbola Indonesia mampu berkembang ke arah yang lebih baik, kenapa tidak? Jika sudah mengganti orang-orang PSSI di tingkat pusat maupun daerah barulah pemerintah lepas tangan dan kembali pada statuta PSSI. Konsekuensinya, Indonesia tidak bisa berkompetisi dalam turnamen dibawah FIFA selama beberapa tahun, dan peringkat Indonesia akan terjun bebas karena tidak dapat melakukan pertandingan internasional.

Cara lain yang relatif lebih aman ialah memaksakan reformasi dari dalam, dan yang memegang peranan ialah para suporter. Selama ini suporter tidak memiliki suara terhadap klub karena klub tetap mampu berdiri meskipun tanpa suporter, karena sumber pendanaan klub berasal dari pemerintah daerah. Wacana regulasi tidak diperbolehkannya APBD digunakan untuk membiayai klub sedikit banyak membawa angin segar. Jika APBD tidak ada lagi, klub otomatis akan bergantung pada sponsor dan suporter. Sponsor akan datang jika suporter mau berbondong-bondong datang untuk menonton, apa jadinya jika suporter memboikot untuk datang ke stadion? Klub tidak akan mendapat pemasukan (dari sponsor, penjualan atribut klub dan tiket), pada saat itulah klub menyadari pentingnya suporter dan pada saat yang bersamaan ketika klub sudah bergantung pada suporternya suara suporter juga akan didengar klub. Sehingga tidak ada lagi klub yang memberikan suara kepada orang yang tidak dikehendaki masyarakat.

Akhirnya, cukup sekian yang dapat saya sampaikan. Saya mengakui jika pandangan saya sangatlah subjektif karena saya juga individu yang pro terhadap reformasi PSSI. Sebagai orang yang ingin melihat sepakbola Indonesia berkembang lebih baik, hanya ini sumbangan saya terhadap kemajuan sepakbola Indonesia. Mudah-mudahan saya mampu berkontribusi lebih kedepannya.

Silahkan jika ada yang berkenan menanggapi maupun memberikan kritik, karena opini yang saya sampaikan ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untukmu Indonesia

Sabtu, 11 Desember 2010

NATURALISASI? KENAPA TIDAK!

Oleh Dimas Adiputra
Asli 100% bukan plagiat

Membela sebuah tim nasional merupakan pencapaian tertinggi dalam karier seorang pesepakbola. Ada kebanggan tersendiri ketika mengenakan kostum negeri tempat pemain itu berasal. Begitu pula dengan Indonesia, walaupun peringkat FIFA-nya jeblok, membela tim garuda masih menjadi idaman setiap pemain sepakbola Indonesia.

Bahkan bukan hanya orang-orang asli yang berkeinginan mengenakan kostum merah putih, para ekspatriat yang bermain di Liga Indonesia (Djarum Indonesia Super League) dan pemain keturunan juga mempunyai keinginan yang sama. Untuk itu isu naturalisasi pemain menjelang berguliarnya Piala AFF, turnamen antar negara tertinggi di kawasan ASEAN semakin gencar digulirkan.

BTN sebagai pihak yang berwenang menyiapkan timnas bergerak cepat. Jika tahun-tahun sebelumnya naturalisasi hanya menjadi isu yang cepat menguap, kini program tersebut berhasil direalisasikan. Dua pemain dinaturalisasi, yaitu Cristian Gonzales yang berasal dari Uruguay dan Irfan Harrys Bachdim yang lahir di Belanda tapi dari ayah seorang Indonesia.

Gonzales dan Bachdim mempunyai latar belakang yang berbeda. Gonzales mendapatkan paspor Indonesia karena sudah tinggal lebih dari lima tahun di Indonesia. Selain itu pemain yang kini merumput di Persib Bandung ini juga memperistri orang Indonesia. Kiprahnya yang sangat meyakinkan di Indonesia, diantaranya menjadi top skorer liga dalam empat tahun terakhir menjadi pertimbangan utama BTN untuk membantu proses permohonannya menjadi warga negara Indonesia.

Irfan Bachdim sejak kecil sudah memegang paspor Indonesia, sehingga kurang tepat jika disebut naturalisasi. Nama Irfan juga telah mengudara di Indonesia sejak lama, pemain ini mulai dipantau ketika menimba ilmu di akademi Ajax Amsterdam kemudian dilanjutkan di FC Utrecht. Ia juga sempat masuk tim seleksi yang dipersiapkan dalam Asian Games, namun tidak lolos karena dirasa tidak mempunyai kualitas yang istimewa dibanding rekan-rekannya. Apalagi Irfan juga terkendala komunikasi karena belum menguasai bahasa Indonesia.

Peruntungannya berubah di tahun 2010. Dimulai ketika Alfred Riedl diangkat menjadi pelatih timnas Indonesia. Pelatih yang sebelumnya menangani Laos ini membentuk skuad kompetitif dengan memadukan pemain muda dengan pemain berpengalaman. Riedl tidak terpaku pada pemain itu-itu saja, bahkan ia mendukung program BTN yang berupaya mencari pemain keturunan Indonesia yang bermain di luar negeri untuk dinaturalisasi menjadi pemain Indonesia.

Bak gayung bersambut, lewat sebuah laga charity yang diselenggarakan di Surabaya dan Malang, pecinta sepakbola Indonesia bisa melihat langsung aksi-aksi menawan pemain keturunan. Dari tiga nama yang hadir, dua diantaranya memikat hati para insan sepakbola: Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan. Kedua pemain tersebut ditampung di klub Persema Malang, tapi sayangnya Kim masih dihitung sebagai pemain asing karena tidak memiliki paspor Indonesia sehingga dirinya hanya menjadi pemain magang tanpa bisa bertanding di laga resmi hingga akhirnya cedera mendera dan memaksanya pulang ke Jerman.

Performa apik yang ditunjukan Gonzales dan Irfan di ISL mendapat ganjaran seragam tim nasional merah putih. Duo pemain naturalisasi ini menjadi duet di lini depan timnas, menyisihkan nama Bambang Pemungkas yang harus puas menjadi cadangan. Permainan tim pun menjadi lebih berwarna, Gonzales menunjukkan ketajaman di depan gawang dan Irfan memberi sentuhan umpan-umpan pendek yang berbeda dengan pemain Indonesia kebanyakan yang lebih suka bermain umpan panjang.

Program naturalisasi pemain tampaknya berjalan mulus. Apalagi jika timnas Indonesia mampu keluar sebagai juara Piala AFF Desember ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah tren naturalisasi akan terus dipertahankan BTN untuk mengatrol prestasi Indonesia yang terakhir kali memenangi kejuaraan pada Sea Games 1991?

Naturalisasi sejatinya bukan hal yang asing dalam dunia sepakbola. Jerman yang tampil menawan di Piala Dunia 2010 banyak menggunakan pemain ‘asing’ seperti Miroslav Klose dan Lukas Podolski yang lahir di Polandia, atau pemain-pemain yang punya darah Turki macam Mesut Ozil, Sami Khadeira, serta Serdar Tasci.

Naturalisasi juga menjadi tren peraih 3 kali juara Piala AFF, Singapura. Pemain-pemain asing yang berkiprah di liga Singapura direkrut untuk membela panji-panji timnas. Hasilnya tim ini menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara pada 2007.
Tidak ada salahnya bagi Indonesia menirunya. Namun harus dipikirkan naturalisasi seperti apa yang cocok bagi negeri berpenduduk 237 juta jiwa ini, apakah mengikuti cara Singapura dengan mengambil pemain dari liganya sendiri, ataukah memanggil pulang pemain-pemain apik yang punya darah Indonesia.

Dari dua cara tersebut, memanggil pemain yang punya darah Indonesia rasanya lebih bijak. Selain masih mempunyai keterikatan dengan negeri leluhurnya, cara ini juga mempunyai lebih banyak manfaat.

Dilihat dari segi umur, pemain yang dinaturalisasi dengan cara seperti Irfan Bachdim bisa lebih muda sehingga masa edarnya bersama timnas lebih lama. Proses naturalisasi juga lebih mudah. Kendalanya ada pada pemain itu sendiri, apakah mau melepas status kewarganegaraan dia sebelumnya ataukah tidak. Bagi sang pemain, menanggalkan kewarganegaraan asal bisa berakibat buruk bagi karier luar negerinya. Bisa-bisa ia masuk kategori pemain non Uni Eropa yang akan menyulitkannya mendapatkan klub. Itulah mengapa pemain yang akan dinaturalisasi harus berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan.

Sedangkan Gonzales baru menjadi warga negara Indonesia ketika umurnya sudah menginjak 34 tahun. Untuk mendapatkan paspor Indonesia, Gonzales terlebih dahulu malang melintang di persepakbolaan Indonesia selama tujuh tahun, dan sudah beristri orang Indonesia. Belum lagi prestasi yang diraih haruslah fantastis seperti Gonzales yang menjadi pencetak gol terbanyak di liga dalam 4 tahun belakangan.

Umur kepala tiga bukan lagi masa yang ideal bagi pemain sepakbola. Pemain seperti Gonzales diprediksi akan dipakai timnas tidak kurang dari 3 tahun saja.
Namun naturalisasi ini bukan tanpa kelebihan. Waktu yang lama di Indonesia membuat Gonzales sudah mengenal seluk beluk kultur Indonesia. Ini menjadi nilai plus karena El Loco, julukan Gonzales tidak perlu beradaptasi lagi. Kualitasnya juga sudah terbukti sehingga tidak akan merekrut kucing dalam karung.

Kini tinggal jalan apa yang ditempuh BTN demi mendongkrak prestasi timnas. Sebagai orang yang cinta terhadap persepakbolaan dalam negeri, kebijakan yang dibuat pasti didukung selama memberikan manfaat. Jika naturalisasi menjadi salah satu jalurnya, maka harus dipikirkan secara mendalam. Jangan sampai keberadaan pemain naturalisasi justru mengebiri peran pemain lokal, seperti yang terjadi di kompetisi lokal. Bagaimanapun pemain naturalisasi diperlukan untuk memberikan warna baru pada permianan timnas dan transfer pengalaman, jadi tidak perlu memasukkan banyak pemain asing di tubuh timnas.

ada yang baru

mulai saat ini isi blog saya bukan hanya cerita-cerita konyol yang saya alami sehari-hari, namun juga ada beberapa tulisan yang secara serius saya buat sebagai bentuk ungkapan maupun pikiran saya terhadap sebuah kejadian.

untuk itu beberapa tulisan yang akan saya posting mungkin terasa berat dipikiran anda hehe, tetapi saya sudah berusaha untuk mengkomunikasikannya dengan bahasa yang lebih mudah dicerna.

so, silahkan menikmati tulisan-tulisan saya lagi. saya akan mencoba lebih eksis menulis di sini sebagai konsekuensi telah hadirnya laptop di tangan saya hasil ngutang hehehe...

Sabtu, 01 Agustus 2009

DEMAM MU

Sebelum bercerita, gua mau jelasin judul diatas. MU itu bukan singkatan Muntah Ulet (hoek!), Makan Ulet, maupun Minum Ulet (kok bikin contoh yang menjijikan semua sih).
Yups, MU yang gue maksud itu Manchester United, pasti kalian udah gak asing kan sama nama ini?
Hah? Ada yang belum tau apa itu Manchester United?
Oke deh, karena gue seorang penulis yang baik hati, ramah tamah dan suka menabung, gue jabarin dikit apa itu MU.
Manchester United itu sebuah klub sepak bola dari Inggris.
Masih butuh penjelasan lebih?
MU itu berdiri udah lama banget, seabad lebih (tepatnya gue gak inget), dulu namanya bukan Manchester United (tapi gue juga lupa nama aslinya). Pelatih pertamanya gue gak tau, begitu juga dengan nama-nama pemainnya, apalagi sama office boy-nya hehe..
Bodo amat, gue kan bukan mau nulis informasi seputar sepak bola. Kalo mau tau info lebih banyak beli aja koran olahraga.
Kayaknya gue udah ngelantur gak jelas deh, mendingan balik lagi ke topik utama kita kali ini. Kisah ini gue dapet dari seorang temen yang gue kenal di facebook. Sebenernya sih gue gak kenal-kenal amat, yang minta kenalan dulu juga bukan gue. Tau-tau dia ada di daftar temen yang menunggu konfirmasi (halah, kayak orang penting aja hehe..)
Namanya di facebook sih Hisra Collin, gak tau tuh nama asli apa bukan. Tapi insting detektif gue berbicara kalo itu nama samaran. Yah, gak beda-beda jauh sama nama gue di facebook, Bayem Muncang hehe..
Dia itu cewek. Lagi kuliah di sekolah tinggi kebidanan di Jawa Tengah. Tapi ada yang aneh cos walaupun dia udah mau semester 3, tapi ternyata dia lebih muda dari gue yang mau jadi mahasiswa baru. Ini gara-gara gue pernah gak naik kelas waktu TK ato dianya yang masuk sekolah pas masih jadi anak ingusan. Ah, sebodo amat.
Dia sih ngakunya pengen bertemen sama gue karena tertarik setelah liat foto gue di facebook (fitnah abis). Bukan karena kegantengan gue, tapi karena foto gue yang gak jelas. Secara foto yang gue pasang di facebook itu cuma keliatan item doank. Sengaja gue bikin gitu, pas lagi sore-sore di pantai, trus gue berpose di bawah terpaan sinar matahari senja, pokoknya jadi sebuah siluet romantis dah, adegan film Beauty and The Beast mah kalah jauh dari pose gue ini (jauh lebih buruk gue maksudnya hehe..).
Ternyata eh ternyata, dia itu fans sejatinya Manchester United. So, pas ada berita kedatangan klub sepakbola berjuluk Setan Merah ke sini dia histeris banget (untung MU baru sekali menjamah Indonesia , kalo dah berkali-kali mungkin tertarik mengganti julukannya menjadi Jaelangkung Merah, Pocong Merah, Tuyul Merah, Kuntilanak Merah, Wewe Gombel Merah, ato Pembalut Merah , abis jenis-jenis setan di Indonesia kan banyak banget hehe..), padahal gue yakin dia juga gak bakal nonton langsung klub pujaannya di stadion.
Jadilah tiap hari kita komen-komenan gak jauh dari berita MU. Untung aja pengetahuan sepakbola gue gak beda jauh sama komentator sepakbola di Indonesia yang terkenal omdo (omong doank), yang suka ngomentari (namanya juga komentator) same berbusa-busa, giliran suruh terjun ke lapangan haslinya 0 besar.
Apalagi beberapa hari sebelum hari- H, makin banyak aja yang kena demam MU. Ada temen satu sekolah gue yang bangga udah dapet tiket nonton langsung ke stadion. Berita kepergiannya berburu tiket ke Jakarta pun dia up date di facebook. Dari perjalanan Kebumen-Jakarta, muter-muter Bogor, sampe foto-foto di Monas. Walaupun cuma dapet tiket kategori paling sudra, yang harganya 70 ribu, nontonnya juga di pojok stadion, yang kalo nonton gak bawa teropong cuman keliatan titik-titik lagi lari-lari ditengah lapangan, senengnya bisa melebihi pas lebaran.
Gak apalah yang penting temen gue itu bakal ngerasain atmosfer pertandingan sepakbola beneran, daripada gue yang malah kena demam beneran dan musti puas cuman nonton pertandingan di tivi.
Tapi kayaknya kedatangan MU ke Indonesia tak berlandaskan lirik lagu ‘Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu...’. Belum sempet menginjakkan kaki di bumi pertiwi, udah disambut sama bom yang mengguncang hotel tempat mereka bakal menginap.
Selang sehari, sebuah berita memilukan lagi meluncur dari Malaysia, tempat yang sedang dikunjungi Manchester United. Mereka gak jadi ke Indonesia!!
Yah, gak jadi deh nonton pertandingan berkualitas. Padahal gue pengen liat Bambang Pamungkas bisa nglewatin Rio Ferdinand apa enggak, Ponaryo Astaman berduel sama Paul Scholes, ato Markus Horison nepis sepakannya Wayne Rooney.
Tapi kesedihan gue yang notabene penggemar sepakbola paling gak modal se-Indonesia, gak ada apa-apanya dibanding panitiannya. Duit miliaran yang terlanjur ditransfer ke rekening MU jadi sia-sia. Belum lagi sponsor-sponsornya, yang udah gila-gilaan promosiin produknya pake embel-embel MU, mulai dari pemain MU pake baju batik sampe pemain MU yang ngomong “INI BUDI (anduk). BUDI (anduk) BERMAIN BOLA.”
Dua temen gue yang udah disebutin diatas juga gak kalah kecewanya. Temen gue yang udah terlanjur beli tiketnya, terpaksa musti balik lagi ke Jakarta cuman buat ngambil lagi duit 70ribunya. Padahal ongkos bensin Kebumen-Jakarta PP dijamin lebih mahal dari selembar tiket itu.
Lain lagi cerita dari temen gue yang bernama Hisra Collin tadi. Beberapa hari berselang setelah batalnya pertandingan, dia curhat ke gue. Gue jadi ngerasa kayak Anjasmara yang jadi presenter ‘Curhat Bareng Anjasmara’, ato jadi Helmi Yahya di acara ‘Masihkah Engkau Mencintaiku’ (halah!). Untungnya curhat di acara gue gak disuruh pake topeng, ato ada adegan berantemnya. Tinggal baca curhatannya, trus kasih solusi yang menyesatkan hehe..
Dia bener-bener gak percaya klub kesayangannya batal dateng. Padahal udah terlanjur beli kaos MU seharga 20ribu dipasar, yang dia tempelin di tembok buat pamer ke temen-temen seasramanya yang kebanyakan ngaku pendukung Chelsea, musuh bebuyutannya MU.
Tivi di ruang tamu asramanya juga udah dipindah ke kamarnya biar bisa nonton secara ekslusif. Tentu aja gak gratis, dia terpaksa nyogok penghuni lain dengan berbagai macam cara, dari ngeluarin jurus “Gue bayarin makan lu sehari”, “gue bersihin kamar lu sekali”, sampe “gue comblangin lu sama temen gue.” Ada aja deh pokoknya tingkah laku ini anak. Mungkin kalo diibaratkan “Lebih baik sebuah tivi dikamar daripada segepok perhiasan di tangan.”
Udah ketauan endingnya, pasti ini anak bakal ngedumel tujuh hari tujuh malem pas MU gak jadi ke Indonesia. Kalo Saykoji siang malem online, si Hisra malah siang malem mangkel.
Mungkin kalo dibuka relawan yang mau perang ngebantu saudara-saudara kita yang masih ditindas Israel dia bakal ikut. Dengan senang hati pasti dia bakal ada digaris terdepan medan pertempuran hehe..
Kisah pilunya belum usai. Tau kalo MU gak jadi mampir ke Indonesia, temen-temennya yang nge-fans sama Chelsea trus ngeledek, “INI BUDI. BUDI BERMAIN BOOMMM!!!”
Hwakakakak...
Gue sih sebenernya ngakak waktu dia cerita gitu. Gua bahkan gak pernah kepikiran kalo iklan pemain MU lagi belajar bahasa Indonesia bisa diplesetin begitu konyol. Kayaknya gue musti cepet-cepet cari hobi lain nih, cos ternyata ada yang lebih berbakat bikin lelucon dari gue.
Berarti gue harus balik lagi ke dunia hitam gue jadi sopir angkot jurusan dunia-akhirat gak pake PP.
***

DIBENCI DEWI FORTUNA

Gak kerasa bentar lagi udah Agustus. Jadi inget lagi masa-masa SMA gue. Apalagi bulan Agustus juga bulan yang spesial buat almamater sekolah gue, cos tanggal 1-nya SMA gue ultah.
Biasanya kalo udah mendekati tanggal ini, sekolah bakal ngadain banyak acara. Mulai dari kegiatan untuk umum macam festival band, pemutaran film, dan kompetisi basket. Ada juga lomba buat internal sekolah. Pokoknya seminggu gak ada pelajaran, hanya foya-foya di sekolah.
Gue punya kisah, yang mungkin menurut kalian menarik, tapi menderita buat gue.
Ceritanya gini. Tiap tahun, menjelang ultah sekolah pasti ada kegiatan yang namanya jalan sehat. Kegiatan ini udah tradisi turun temurun, sampe saking turun temurunnya tradisi ini, rute perjalanannya juga itu-itu aja. Gak ada perubahan. Gue sebenernya bingung juga, rutenya sengaja dibuat sama, ato panitianya yang gak kreatif menumin rute baru.
Selain itu kegiatan ini juga wajib buat seluruh penghuni sekolah, sampe-sampe ketua kelasnya mesti ngabsen kalo-kalo nemuin anak yang gak berangkat. Jika pun gak dateng, harus ada surat pemberitahuannya, pokoknya jadi sok resmi baget lah, kayak sekolah aja. Padahal kegiatan ini juga diadain hari Minggu. Aneh banget kan, di sekolah kalian gini juga gak?
Sebenernya sekolah gak se-ditaktor itu. Buat merangsang biar pada dateng ke acara ini, diadain doorprize yang hadiahnya macem-macem, mulai dari peci sumbangan guru olahraga (kebetulan guru olahraga di sekolah gue juga nyambi jadi pengusaha peci), alat tulis sumbangan kepsek (beliau juga nyambi punya toko alat tulis), hadiah dari koperasi sekolah, dan sumbangan-sumbangan dari pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu (kok jadi kayak mau pidato yah hehe..).
Yang jadi primadona doorprizenya itu sebuah sepeda jengky, anyar gres (baru keluar dari pabrik), masih dibungkus plastik hehe.. Ya kalo dijual bisa laku setengah juta lebih lah, lumayan banget kan. Apalagi tiap taun hadiah selalu bertambah, pas gue kelas satu dan dua cuman sebuah, tapi pas gue kelas tiga beranak jadi dua buah.
Selain full doorprize, dibuatin panggung hiburan juga. Biasanya diisi parade band, lawak, sexy dancer, dan tari striptis hwehehehe..
Gak percaya?
Oke, kalo tari striptis sama sexy dancernya gue emang bo’ong, lawaknya gue juga lupa ada tao enggak, tapi kalo parade bandnya gue beneran.
Ada juga guru yang belum sempet nyumbang hadiah, diganti nyumbang suara. Gue gak akan berkomentar tentang performa nyanyi guru-guru gue, mau fals kek, harusnya naik tiga oktaf kek, harus pindah ke A minor kek, gue gak peduli. Lagian gue juga bukan pemerhati musik tanah air (ceile, bahasanya tingkat tinggi tenan)
¬@_@
Waktu gue kelas satu, masih jadi anak ingusan di sekolah, gue ngikutin kegiatan itu dengan seksama, mengikuti dengan tata cara yang baik. Apalagi waktu itu juga kebetulan gue yang jadi ketua kelas, so gue terpaksa berangkat biar jadi contoh yang baik bagi temen-temen gue hehe..
Karena saking benernya, pas temen-temen gue banyak yang ngambil dobel kupon undiannya, gue cuman ngambil satu. Yah, gak apa-apa lah, mungkin walaupun cuma ngambil sebuah, moga-moga malah kupon gue yang tembus (kayak togel aja hehe..)
Ternyata harapan gue terlalu muluk, kalo diibaratkan peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan. Jangankan dapet hadiah utama, bolpoint aja yang jadi seapes-apesnya hadiah gak dapet, bahkan kupon gue kepegang pun enggak sama pembawa acaranya.
Mesti gimana lagi, dasar apes ya apes. “Bakal gue bales taun depan,” seloroh gue dalam hati.
Setaun kemudian, hari pembalasan itu datang juga. Gue udah nunggu-nunggu datangnya momen ini. Gue udah mempersiapkan semuanya, mulai dari celana kolor butut, kaus dalam rombeng, sampe iket kepala lumutan (ini gue mau ikut jalan sehat ato pawai orang gila sih hehe..).
Gak dink, penampilan biasa aja, yang beda itu semangat gue. Masih terbayang jelas dendam gue taun lalu yang harus terbalaskan kali ini. Gue bahkan udah mempersiapkan rencana cadangan, sebuah jalan terobosan untuk dapat sampai lebih cepat. Gak susah nyarinya sih, abis rutenya juga gak jauh dari rumah gue.
Pokoknya abis ngambil kupon gue bakal langsung ngacir lewat jalan pintas. Bodo amat sama jalan sehat, ambisi gue adalah menggondol hadiah utama. Persetan dengan kalian semua hwahahah.. (obsesi pendekar mode on)
Tapi sayangnya harapan gue gak sesuai dengan realita. Kayaknya dewi fortuna lagi males deket-deket gue. Gue juga heran, padahal tadi pagi gue udah mandi, pake sabun pula (biasanya pake abu sih hehe..), gak lupa diluluri sun block, biar gue gak jadi lebih item dari sekarang, pokoknya jadi pria idaman para waria deh haha.. Tampang gak beda jauh sama Hengky Kurniawan.
Apa jangan-jangan dewi fortuna gak suka model Hengky Kurianawan ya? Masa sih sukanya sebangsa model Komeng, Sule, ato Mail ‘OB’? Gak tau lah, yang jelas taun kedua gue juga gak dapet apa-apa. Sepeda jengky lepas lagi dari genggaman gue.
Waktu itu gue bener-bener putus asa. Mungkin gue emang orang paling apes se-dunia akhirat. Cara bener udah gue lakuin, cara curang juga gue praktekin, masa’ sih gue mesti pake cara yang lebih ekstrim?
Gue bahkan sampe bilang ke temen gue kalo gue gak bakal ikut lagi taun depan. Walaupun badai menghadang, daun-daun berguguran, ato Asmirandah dalam pangkuan (halah! Ngarep banget), gue udah kapok ikut beginian.
Sayangnya gue gak bisa nepatin sumpah gila itu. Gue musti menjilat ludah sendiri (hoek! Menjijikan banget!), apalagi kalo bukan gara-gara gue jadi pengurus OSIS. Sialnya, kegiatan internal ultah sekolah ada di dalam program kerja gue, parahnya lagi jalan sehat itu juga sebuah olahraga. Jadilah mau gak mau gue bakal berurusan dengan kegiatan sialan ini.
Awalnya gue memang menganggap ini sebuah kesialan, tapi lama-lama pikiran jahat gue berkembang dan kemudian senyum gue ikutan mengembang. Kalo gue jadi ketua pelaksananya, teknis kegiatannya gue yang nentuin donk. Berarti sekarang takdir berada di tangan gue. Ibaratnya gue itu lagi pegang pistol, dan bersiap menembak penjahat yang sedang sekarat. Bahasa gaulnya hidup mati penjahat itu ada ditangan dan pistol gue hwahahaha... (sekarang obsesi tukang jagal mode on)
Gak butuh dewi fortuna- dewi fortunaan lagi, impian akan menjadi kenyataan di taman impian Jaya Ancol (lho..?)
Berbagai rencana jahat yang melebihi jahatnya ibu tiri udah gue persiapin, kalo perlu pembawa acaranya biar gue sekalian. Biar pas lagi undian sepeda, kupon gue udah ada dalam genggaman.
Biarin dicemooh satu sekolah. Yang penting sepedanya gue gondol dan langsung gue jual di pasar hwahaha..
Bener-bener rencana yang sangat sempurna.
Tapi baru aja gue mau omongin rencana gue jadi MC, udah ditolak sama pengurus OSIS yang lain.
“Ngomong bahasa Indonesia yang baik dan benar aja belum lulus, berlagak mau jadi MC!”
“Ntar dikira yang dipanggung lagi mempraktekan mata pelajaran baru di sekolah kita, bahasa hewan hwahaha...”
“Yaelah, bahasa Indonesia gue gak seancur itu kali,” bela gue.
“Iya, bahasa lu emang gak seancur itu, tapi muka lu tu lebih ancur hwahaha...” ngakak rame-rame.
Walaupun gak ikhlas tapi akhirnya gue turutin juga saran temen-temen gue. Mungkin ada benarnya omongan mereka. Kalo-kalo acara ini diliput sama tivi lokal, takutnya berubah jadi acara ‘satwa liar dan ekosistemnya’.
Tanda-tanda gue bakal sial untuk ketiga kalinya berturut-turut (harusnya gue masuk rekor MURI nih, sebagai orang paling apes di kolong jagat), mulai tercium sehari sebelum kegiatan.
Gue yang lagi istirahat di ruang OSIS setelah seharian ngurusin classmeeting tiba-tiba didatangi koordinator jalan sehat sambil bawa kertas sekresek besar. Katanya sih dia belum sempet ngasih cap sama guntingin kuponnya.
Entah setan apa yang lagi bersemayam, gue mau aja gantiin beresin kuponnya. Apalagi dia belum cek rute juga. Akhirnya gue suruh dia cek rute dan gue yang nyelesein kuponnya.
Gue sadar beberapa menit kemudian. Ngapain cek rute? Rutenya juga gak bakal lari kemana. Jalannya juga udah beraspal, gak ada tanda-tanda bakal ada langsor? Bodohnya gue.
Awalnya banyak pengurus lain yang bantu gue, tapi semakin sore semakin dikit aja yang betah bantuin gue. Akhirnya dengan amat sangat terpaksa pekerjaan ini gue lanjutin di rumah, padahal masih seabrek kertas yang belum digunting. Tauk deh bisa selesai apa enggak. Gue pesimis.
Hari pertarungan tiba. Ditemani gemericik tetesan embun, daun-daun hijau bergoyang memberi salam, dan segarnya segelas jahe susu apalagi ditambah sepotong pisang goreng gue siap menyukseskan gelaran jalan sehat ini.
Walaupun sebenernya mata masih pyar-pyaran saking ngantuknya, abis semaleman hampir gak tidur. Untungnya tugas mahaberat ini terselesaikan. Gue harus kerja keras hingga detik-detik akhir sebelum akhirnya nyelesein semua kuponnya sendirian.
Dengan tergesa-gesa gue tancap sepeda motor ke sekolah, gak lucu kan kalo ketua pelaksananya telat. Gue bahkan gak sempet sarapan, suatu hal yang jarang terjadi, biasanya makan selalu jadi prioritas gue.
Pas gue mau nyerahin kardus berisi kupon undian, eh malah ditolah sama gurunya. “Kupon undiannya udah dibuatin percetakan. Bentar lagi dibawa sini!”
Dddjjeeedddeeerrrr!!!! (lebih parah dari kesamber petir)
Trus ngapain seharian gue gunting-gunting beginian?
Aaarrrrrgggghhhh....
Langsung gue pengen tepar di ruang OSIS, saking ngantuk sama lapernya. Sialan! Koordinatornya payah! Nyusah-nyusahin hidup gue aja yang udah susah.
Kalo dibuatin sinetron mungkin bakal ada adegan ketua mencincang anak buahnya yang gak becus. Untung gue gak punya kenalan Muhammad Ali, kalo iya udah bonyok tuh anak.
Puas nangis darah (gak dink) di ruang OSIS, gue segera meluncur ke rute tempat dibagiinnya kupon. Gue dibagi segepok kupon buat dibagiin ke peserta jalan sehat.
“Kalo mau ambil tiga ato empat juga boleh,” salah satu guru yang jadi koordinator memberikan nasihat menyesatkan. “Sisanya juga masih banyak.”
Oalah, makanya dari dulu gak ada panitia yang gak dapet hadiah, porsinya lebih banyak, batin gue dalam hati. Okelah, gue ikutin saran guru itu, lagian guru itu juga artinya digugu lan ditiru, gue ikutin perintahnya walaupun itu salah (don’t try at home, but try in your school haha..)
Udah terlanjur jengkel, gue gak cuma ngambil lima kupon, tapi satu iket (isinya kira-kira 100 lembar) gue embat. Ekstrim-ekstrim sekalian dah. Hutang nyawa dibalas nyawa, hutang sepeda dibayar sepeda, titik!
Tapi sejahat-jahatnya gue, masih ada sedikit bau malaikat yang berasa di tubuh gue. Satu iket gak buat gue semua. Gue bagi ke panitia yang lain dan buat temen-temen sekelas gue. Yah, itung-itung ngurangin dosa lah, paling gak dosanya bisa dibagi-bagi hehe..
Akhirnya gue kebagian tiga belas lembar. Gak apalah, segitu juga udah banyak banget. Gue gak bakal pulang dengan tangan hampa kali ini. Dengan asumsi gue punya 13 kupon, dengan 2 sepeda yang diperebutkan melawan 1200 peserta, peluang gue 26/1200. Sesudra-sudranya ya harus bawa pulang anduk baru.
Pemungutan kupon dimulai. Ratusan hadiah siap diperbutkan, tapi hanya satu yang menjadi perhatian gue.
Satu dua jam kupon gue belum ada yang tembus satu pun. Sementara itu temen-temen sekelas gue udah pada kipas-kipas hadiah. Panitia juga udah banyak yang bawa pulang hadiah.
Gue masih optimis, prinsip bersakit-sakit dahulu, bawa sepeda pulang kemudian masih gue pegang.
Semakin sedikit hadiah yang tersisa, belum ada satupun yang gue dapet. Gue bahkan udah diledek sama temen-temen, sampai saking ibanya gue dikasih buku tulis sama temen gue.
Cih, menghina kau! Awas kalo sepedanya gue dapet, lu gue kasih plastiknya doank hahaha...
Momen yang ditunggu-tunggu tiba juga. Tapi sepeda pertama lepas dari sergapan gue.
Yang dapet sepeda pertama gerombolan panitia dari kelas dua yang juga gue kasih kupon.
Sepeda kedua diundi.
Yang keluar kupon perwarna biru. Yes, gue punya delapan kupon biru.
Nomornya 09..
Gue deg-degan banget, gue punya enam nomor yang depannya 09, berurutan pula.
0915...
Gue menahan napas sebentar. Punya gue 0908, 0909, 0910, 0911, 0912, 0913..
Gak adaaaaa!!!
Gue nanya ke temen gue, “Nomor lu berapa De?”
“Asem, nyaris! 0916,” temen gue gak kalah kecewa.
Tiba-tiba ada yang teriak histeris, pandangan semua orang se-penjuru sekolah jadi tertuju padanya. Cewek, tapi kayak cowok. Teriak-teriak gak jelas.
“No.. Nomorku..” katanya gak percaya.
Gue menoleh, hah? Okti?
“Ye.. Ye... Nomorku tembus!!” teriaknya sambil lari ke panggung, persis kayak pedagang kaki lima lagi diuber-uber Satpol PP. Bedanya kalo pedagang kaki lima lari ketakutan, dia lari kegirangan.
“Sial! Nomor gue tuh tadi,” temen gue yang lain, Ridwan nyeletuk.
Gue menoleh lagi, “Hah? Yang bener?”
“Iya, itu kupon yang tadi dikasih lu, trus berhubung gue udah punya tiga gue kasih ke sembarang orang. Eh malah kupon itu yang jadi sepeda.”
“Sumpeh lo?”
“Sumpe dah, biar mampus orang lain.”
Aaaarrrrrggggghhhh.....
Bener-bener orang paling apes gue ini. Dewi fortuna kayaknya bener-bener benci sembilan per sepuluh mati sama gue. Pulang cuman bawa buku tulis pemberian temen yang iba ke gue sama TIGA BELAS kupon biadab yang gak satu pun tembus!!
***

Minggu, 26 Juli 2009

HIKAYAT PEMUDA GAPTEK

Kalo ngomongin masalah teknologi dan sekitarnya, bukan gue ahlinya. Bisa dibilang, walaupun gue males ngakuinnya, gue ini gaptek. Contoh paling gampang diliat ya tampilan blog gue. Isinya cuman tulisan doank, gambarnya hanya sebiji. Backgroundnya itu-itu aja, sampe poling musti dijawab manual, pake dikirimin ke email gue segala, ribet banget dah pokoknya. Pasti temen-temen yang gue paksa buat ngasih komentar di blog gue merasa jenuh kan?
Gue jadi merasa terasingkan di abad ke 21 ini. Kayaknya gue lebih berbakat hidup di jaman Siti Nurbaya (biar gak kesulitan cari pacar, tinggal nyari orang yang terpaksa dijodohkan ama gue hehe..), ato jamannya Khalil Gibran (biar gue jadi pioner penulis cerita humor buat bang Radith, bang Arham, bang Mandiri, bang Bukopin, bang BCA, dan bang-bang lainnya), ato seenggak-enggaknya gue hidup di jaman sebelum kemerdekaan deh, paling gak gue bisa jadi tukang jagal yang disegani di dunia maupun akhirat hehe..
Kegatpekan gue kayaknya udah bawaan dari lahir. Dari pas gue masih suka pipis sembarangan, sampe jaman jenggot gue menari-nari di atas penderitaan muka gue (apaan sih maksudnya), masih aja gue gak up date sama yang namanya teknologi.
Gue suka nervous kalo pegang barang elektronik, apalgi kalo itu barang baru dan bukan kepunyaan gue.
Dulu, pas gue kecil, waktu komputer pentium tiga lagi merajalela, yang namanya pegang komputer gue gak berani. Pas temen-temen gue unjuk kebolehan dalam hal perkomputeran, gue cuman bisanya manggut-manggut terkagum-kagum liat orang ngetik. Gak bisa ngoperasiinnya lah, kagak mudeng lah, sampe alesan takut rusak selalu jadi tameng gue buat gak deket-deket sama yang namanya komputer.
Soalnya tiap barang yang ada ditangan gue kemungkinan rusaknya jadi besar, mirip Medusa dalam etos Yunani. Bedanya kalo Medusa punya kekuatan mematikan di pandangan matanya, kekuatan merusak gue ada ditangan. Udah banyak contohnya, kaca rumah orang udah banyak yang gue pecahin, sering juga gue gak sengaja ngrusakin mainan tetangga gue. Koleksi tamiya gue cuma perlu sebulan buat jadi bangkai, bahkan gue pernah hampir ngerobohin gardu poskamling di desa gue gara-gara gue nekat gelantungan di tiang penyangga tanpa mempertimbangkan bebet, bibit dan bobot gue.
Pas akhirnya babe gue ngredit buat beli komputer, mulai belagulah gue. Tiap hari abis sekolah kerjaannya nge-game, kadang ngajak main sama temen yang kadar katronya mirip gue (sekalian unjuk kebolehan ceritanya hehe..).
Sampai akhirnya belum ada seminggu komputer itu jadi anggota baru dirumah gue, udah game over. Gak kuat tiap 14 jam sehari nyala terus, apalagi sodara-sodara gue juga gak kalah belagunya sama gue. Pasti komputer malang itu sangat tersikasa raga dan batinnya akibat perlakuan keluarga gue. Padahal babe gue belum ngelunasi cicilannya, cuma baru setor uang mukanya doank hehe..
@_@
Gue juga punya kisah pilu tenang alat elektronik yang bisa dibuat narsis-narsisan, yaitu kamera. Saat kamera digital dan kamera handphone mau booming di Indonesia, keluarga gue malah belinya kamera jadul, yang masih pake klise. Udah biaya ngurusnya mahal, ribet pula.
Tapi alat ini cukup berjasa dalam kehidupan gue, paling gak gue jadi punya beberapa cuil kenangan yang terpotret lewat sebuah kamera jadul.
Hingga akhirnya gue mesti berpisah dengan kamera ini untuk selama-lamanya karena mengalami kisah yang tak kalah tragis dengan komputer gue. Setelah mengabdi selama beberapa tahun (jadi rekor pembelian alat elektronik terawet setelah tivi dirumah gue), kamera ini lenyap digondol klepto pas lagi acara kumpul-kumpul remaja didaerah gue.
Mungkin ini jadi sad ending bagi gue, tapi happy ending buat klepto sama kameranya, karena telah menemukan orang tua asuh yang lebih perhatian dari keluarga gue.
Pas gue udah kelas dua SMApun, kadar kegaptekan gue belum berkurang juga. Kali ini mengenai alat komunikasi yang udah jadi kebutuhan primer bagi orang yang pengen dianggap gaul, yaitu henpon.
Gara-gara dikeluarga gue ada aturan tidak boleh memiliki hp sebelum lulus SMA, jadilah gue salah satu dari sedikit orang paling katro di sekolah paling terkenal di kota gue. Alesannya sih biar gak ganggu waktu belajar, padahal tanpa ada henpon gue juga gak pernah belajar.
Mungkin kalo diadain katro award di sekolah, tiap tahun pasti gue jadi salah satu nominenya, disusul mbak gue yang juga satu sekolahan sama gue (tapi gue salut cos mbak gue bisa bertahan hidup tanpa henpon selama SMA haha..)
Peruntungan gue berubah ketika tidak disangka-sangka, gue disuruh jadi pengurus OSIS. Bidangnya juga pasti bikin orang lain menggrenyitakan dahi, saking gak percayanya sih. Gue jadi sekbid 7 OSIS, mengurusi kesegaran jasmani dan daya kreasi. Gue aja gak percaya. Secara postur gue gak ada tampang seorang olahragawan, walaupun gue aktif di berbagai cabang olahraga. Tiap main voli cuman jadi pemain kuburan, basket pas-pasan, sepakbola cuman menang gaya, lebih pantesnya sih mungkin gue jadi atlet sumo hehe..
Tapi apapun cabangnya, minumnya tetep teh botol sosro (eh, kok malah iklan sih). Gue tetep bersyukur walaupun mungkin yang milih itu melakukan perjudian yang sangat berbahaya, mungkin memilih pilihan terbaik dari yang paling buruk hwehehe..
Paling gak sekarang gue bukan lagi binatang biasa di sekolah gue (lho, sejak kapan gue jadi binatang?). Berkat jabatan baru ini pula gue jadi punya alesan buat punya henpon (pasti mbak gue ngiri deh gue gak perlu lulus SMA dulu baru dibeliin hape hehe..).
Walaupun awalnya gak mau beliin gue hape, akhirnya babe gue takluk juga. Berkat jurus rayuan dari pulau kelapa yang terbukti ampuh gue bakal punya sebuah henpon. Apalagi gue juga nambahin alesan-alesan yang dibuat-buat untuk lebih meyakinkan babe gue. Mulai dari alesan biar komunikasi dengan anggota OSIS lain gak keputus, sampe dengan alasan penghematan tagihan telpon rumah. “Be, kalo gak ada hape berarti telpon-telponannya pake telpon rumah. Padahal nelpon dari telpon rumah ke hape kan mahal Be,” alibi gue suatu ketika.
Tapi babe ternyata gak termakan opini gue mentah-mentah. Biar gak tekor-tekor amat, cos babe juga musti biayai mbak gue yang lagi kuliah, akhirnya disepakati gue juga musti tanam modal di hape itu, kalo islitah dalam acara Who Wants To Be A Millionarenya itu fifty-fifty.
Gak apalah, yang penting gue bakal punya secuil hape. Waktu itu, karena gue masih buta akan dunia perhenponan, gue serahkan ususan pembelian hape kepada babe gue. Tapi ternyata babe juga gak up date sama hal beginian.
Selang beberapa hari kemudian, datanglah barang yang udah gue tunggu-tunggu. Ternyata yang bawain itu masih sodara Babe gue.
“Mas, adanya yang second yang kayak gini. Kalo dulu hape tipe ini digandrungi sama anak muda,” kata sodara babe gue yang bawain hape.
“Gimana, seneng gak sama hape gini?” babe lalu menyerahkan hape ke gue.
Gue yang gak tau menau sama ciri-ciri hape yang lagi ngetrend itu gimana, langsung aja ngiyain. Wow, hape kayak gini pernah jadi trend? Hwehehe.. Senengnya gue.
Tapi kebahagian gue hanya muncul sesaat. Setelah study banding kesana kemari, ternyata hape gue masih yang paling jadul. Niat pengen memperkenalkan hape terbaru gue yang pernah digandrungi sama anak muda, malah gue kayak mempermalukan diri sendiri.
“Udah gak jaman lagi punya hape segede itu, itu hape ato sepatu?”
“Emang selain buat komunikasi, hapenya juga mau lu pake buat nimpuk maling ya hwehehe..”
“Lagian keyword melingkar kayak gitu juga jadul, bikin ribet. Nyusah-ngusahin hidup lu aja yang udah susah.”
Itulah beberapa komentar yang meluncur ketika me-launcing hape gue.
“Gak usah sedih, kita semua jujur kok, daripada kita bilang hape lu keren, ntar bisa menimbulkan fitnah haha..”
“Nih,” tiba-tiba temen gue nyodorin gunting.
“Buat apa? Kalo cuman diledekin kayak gini gue gak bakal harakiri kok,” bela gue.
“Ye, sapa juga yang nyruh lu harakiri. Ni buat nyukur jenggot lu, kalo-kalo lu mau nangis. Emang gak malu sama tu jenggot hwahaha...”
Temen-temen gue pada ngakak sepuas-puasnya. Gue jadi kayak seorang hartawan yang sedang terdampar disarang penyamun.
“Ah, sialan lu!” bales gue.
Tapi perkataan temen gue ada benernya juga, kalo ternyata hape segede punya gue udah gak ngetrend. Pantesan aja sodara babe gue ngomongnya hape tipe kayak gini pernah trend, kagak dilanjutin “tapi sekarang udah gak.” Gue kira dari dulu sampe sekarang juga masih ngetrend.
Secara sekarang jamannya hape ramping-rampingan. Selain mudah dibawa dan dimasukin dimana saja, hape banyak yang ramping juga biar orang pada gak tegiur buat nyopet.
Lha ini hape gue malah gede banget. Udah susah buat dimasukin ke saku celana, juga bisa menggugah syahwat orang buat nyopet. Jangan salah kira, biar hape jadul gini tapi kalo dituker sama duit bisa buat makan daging selama seminggu lho..
Selain tampilannya yang jadul, hape gue juga punya banyak kelebihan, tapi kelebihan ini malah bikin yang punya jadi tambah sebel.
Henpon gue sensitif banget, dikit-dikit mati. Kesenggol meja mati, dimasukin tas kadang mati, dimasukin saku celana mati juga. Ribet banget dah pokoknya. Belum lagi baterainya juga udah bocor, jadi baru dipake beberapa menit aja udah tewas. Lagi nge-game ular-ularan yang makan sesuatu trus lama-lama jadi panjang (abis gamenya adanya itu doank) beberapa menit aja udah game over gara-gara baterai habis.
Ada lagi keanehan yang pasti gak ada duanya didunia ini. Hape lain gak bakal bisa niru hape jadul gue. Tiap jam lima sore sampe jam dua belas malem (ini udah beneran gue buktiin), gak bisa buat ngisi baterai! Tiap ngisi dijam-jam itu, selalu aja ada peringatan “Tidak Mengisi”!
Saking sebelnya, sampe gue cincang-cincang ces-cesan hape gue. Amarah gue yang udah meluap-luap gue lampiaskan kepada seonggok ces-cesan tak berdaya.
Setelah gue pinjem ces-cesan temen gue, ternyata penyakit eror itu masih ada juga. Usut punya usut ternyata hapenya yang emang eror. Gue jadi ngerasa bersalah sama almarhum ces-cesan gue, karena telah menghakimi benda yang tak bersalah itu hiks.. hiks..
Kalo diibaratkan, hape gue itu seperti membeli kucing dalam karung. Tapi masih mendingan kucing dalam karung, kalo lagi dinaungi dewi fortuna bisa dijual lagi, ato bisa dijadiin hewan piaraan, setidaknya bisa dimakan deh (hoekk!!). Tapi henpon gue mau dijual lagi juga gak bakal laku (kecuali kalo gue nemu pembeli yang lebih payah daripada gue), mau dijadiin piaraan juga gak pantes, apalgi buat dimakan, seringnya malah makan hati yang punya.
Hingga kini henpon itu masih bersemayam di rumah gue, tapi udah jadi milik emak. Gue udah punya yang baru, lebih bagus dikit lah daripada yang dulu. Emak gue yang masih asing dengan henpon pasti gak akan merasa tersiksa seperti gue dulu, paling enggak sampe beliau sadar kalo henpon itu bener-bener SIALANNN!!!
***

Kamis, 23 Juli 2009

FENOMENA HIBURAN DI INDONESIA

Ide itu datangnya bisa dari mana saja, kapan saja dan siapa saja. Maka WASPADALAH! WASPADALAH!! (eh, kok jadi ikut-ikutan berita kriminal sih!)
Seperti ketika gue nulis cerita berikut ini, sebuah pemikiran aneh tapi bisa dijamin kebenarannya gitu aja keluar ketika gue lagi pengen-pengennya tidur siang. Gara-gara ide yang muncul diwaktu yang gak tepat ini pula gue jadi gagal tidur, padahal ngantuk banget tadi malam abis semaleman nonton sepakbola. Tapi gak apalah, mungkin bukan cuma gue yang punya opini seperti ini.
Untuk itulah (bahasanya dibuat sok resmi), biarkan kali ini gue bercerita tentang sebuah opini sederhana yang dirangkai terus menerus dengan beberapa fakta yang terjadi sehingga terbitlah cerita ini.
Kisah ini bermula ketika gue lagi nonton tivi. Sayangnya gak ada acara yang menarik ditonton menurut gue, disana-sini cuma ada acara musik. Sebenernya sih gue gak alergi sama tayangan beginian, cuman kalo ditonton berkali-kali apalagi hampir di semua stasiun televisi (kaya infotainment gitu lah) di jam yang hampir sama pula, akhirnya boring juga.
Selain itu, masih mending kalo yang bawain tembang yang punya lagu itu, lha ini yang nyanyi adalah orang-orang yang gak ketauan rimbanya. Bermodalkan kenekatan, keberanian dan tak ada rasa malu, dengan pedenya nyanyi sambil berlenggak-lenggok dilayar kaca. Jadinya acara yang gue tonton lebih mirip audisi Indonesian Idol (malah lebih parah cos ini tayang live, jadinya gak bisa diedit hehe..).
Untung di acara itu gak ada komentatornya. Kalo ada komentator macam Anang dan Dedi Corbusizier yang suka bikin mental down, dijamin obat nyamuk laris manis di pasaran, cos banyak yang harakiri saking malunya sih hehe..
Saking boringnya, belum ada lima menit gue nonton, udah gue matiin tivinya. Lalu bergegas ke kamar untuk melampiasakan hasrat terpendam gue (jangan berpikir parno dulu, hasrat tidur siang maksudnya).
Sayangnya niat baik gue ini gak tersalurkan dengan baik (niat baik gak tersalurkan dengan baik? Bahasa yang wagu. Bodo amat. Amat aja yang bodo gak protes).
Gue gak bisa tidur, terus aja kepikiran sama acara tadi. Bukan karena gue pengen berpartisipasi, tapi gue bingung kenapa acara kayak gitu bisa tetep eksis, bahkan setelah gue pikir-pikir lagi, ternyata hampir semua stasiun televisi di negeri ini punya jadwal acara yang seragam. Kalo diibaratkan dengan memasukan ilmu ekonomi yang pernah gue dapet di SMA, mirip pasar persaingan sempurna (kalo ada yang gak mudeng apa itu pasar persaingan sempurna, masa bodo. Gue ogah jelasinnya).
Pagi buta acaranya pengajian, yang nyimak mungkin ibu-ibu yang lagi ngeliwet nasi, ato orang yang lagi nyiapin dagangannya. Dilanjutkan dengan sekmen berita, berita biasa kek, kriminal kek, olahraga kek, apa berita selebriti kek, yang penting kan berita.
Setelah para eksekutif ataupun pelajar gak ada dirumah, acara televisi ganti juga, yaitu acara musik. Pendengar setianya mungkin pengangguran-pengangguran muda seperti gue maupun pelajar-pelajar yang gak nyampe sekolah, alias bolos.
Siang-siang acaranya masih bertemakan musik, tapi sekarang yang nyanyi gantian orang-orang yang gak terdaftar sebagai penyanyi, bahasa gaulnya penyanyi dadakan. Walaupun suaranya pas-pasan buat ditampilin, toh tetep aja banyak penonton yang teriak histeris, entah histeris pengen muntah ato apa hehe..
Belum lagi biasanya ada pembawa acara ato artis yang ngerayu-ngereyu musisi cerdas buat dibikinin lagu. Akhir-akhir ini sih setau gue yang sering dimintai lagunya itu Dewiq, Charly ST12 dan Dodi Kangen Band. Gak tau deh pada ikhlas apa kagak, soalnya bisa menurunkan kualitas lagu-lagu mereka kalo dinyaiin sama amatiran. Giliran dapet job manggung langsung bisanya cuma lipsync (tulisannya bener kagak ya?), megap-megap doank gak ada bunyinya.
Mungkin saking ketatnya persaingan memperebutkan pasar musik di Indonesia, para pendatang baru hanya punya dua pilihan agar namanya cepat melejit, yaitu memlagiat lagu-lagu luar negeri yang ngetop ato nyanyiin lagi lagu-lagu jaman dulu yang udah terjamin kualitasnya. Biarin dicemooh, yang penting terkenal, gitu mungkin pikiran mereka (yee, kalo pengen terkenal sih tinggal bikin cerita kayak Manohara, Ryan si pembunuh berantai, ato Sumanto sekalian aja).
Abis Maghrib gantian tayangan sinetron yang merajalela diseluruh penjuru negeri. Ini dia waktu paling menyikasa bagi gue, karena hampir gak ada yang bisa ditonton. Pada jam-jam inilah gue terpaksa membaca ulang buku kolekasi gue (saking gak ada buku menarik lagi untuk dibaca).
Untuk tayangan satu ini gue juga masih bingung, siapa sih yang suka nonton sinetron? Sampe ditayangin pas prime time segala, iklannya sampe bejibun. Padahal di rumah gue gak ada yang doyan sinetron, sampai-sampai ada peraturan tak tertulis yang melarang menonton acara kayak gini.
Pas ngobrol sama temen-temen facebook gue juga jarang yang suka sinetron, banyak juga yang merasa jijik. Walaupun gak tau juga mereka beneran apa kagak, mungkin mereka merasa nista jika mengaku sebagai penggemar sinetron hihihi.. Tapi yang penting kan ternyata bukan gue doank yang alergi sama sinetron.
Mungkin lu nanya ke gue, lha terus napa gue ngefans sama Asmirandah?
Oke, pertanyaan itu akan gue jawab di rubrik rakyat bertanya presiden menjawab berikut ini (halah, obsesi presiden banget hehe..)
Sebenernya gue gak tergila-gila amat, cuman enak aja ngeliatan cewek cakep bin langka untuk ukuran Indonesia ini. Menurut gue wajah seperti itulah obsesi pacar yang lebih punya taste (halah! Ngarep banget!).
Jadi gue kagak pernah liat Asmirandah main sinetron. Boro-boro main sinetron, main halma, main kuda lumping, mainan wayang, sampe mainin hati orang gak pernah gue ikutin perkembangannya (tapi kalo berenang sebisa mungkin sih gue perhatiin hehe.. halah!).
Belum lagi kalo ngomongin sinetron bernuansakan agama akhir-akhir ini. Bukan cuma bikin boring liatnya, gue yang gak ikut main aja sampe mual and malu. Liat sekilas jalan ceritanya aja udah bikin gimana gitu, sampe gak bisa diungkapin dengan kata-kata. Udah ngambil setting Arab sampe bahasa-bahasanya (tauk deh bahasanya bener apa kagak, sekalian aja shoting di Zimbabwe sama ambil bahasanya sekalian), udah gitu ada anak yang punya mata tiga! Perpaduannya aneh banget, gak ada sinkron-sinkronnya. Efek komputernya apalagi (moga aja sinetron kayak gini gak tersiar sampe luar negeri).
Yang bikin gue gak sreg lagi adalah pemilihan pemain utamanya. Masa pake model semisal Titi Kamal sama Hepi Salma, yang jelas-jelas kalo lagi tampil di depan umum pake baju kekurangan bahan alakadarnya, cuma pas di sinetron aja pake kerudungnya.
Kenapa gak pake pemain macam Zaskia A. Mecca, ato Inneke Kusherawati aja, yang udah konsisten sama jilbabnya.
Gue gak habis pikir, sebenernya apa sih maksud sutradaranya? Punya sebuah niat baik ato cuma pengen jelek-jelekin agama! (mulai jengkel ni gue, kalo udah ngomongin agama jadi gampang sensitif nih. Jadi kagak lucu lagi ceritanya. Udah terlanjur dongkol)
Setelah gue inget-inget lagi, gue pernah nemuin orang-orang yang begitu ngebet sama sinetron. Yang pertama adalah tukang fotocopy dideket rumah gue. Tiap gue kesana, pasti yang lagi ditonton sama pemilik and anak-anaknya yang sekaligus bertugas sebagai pegawai itu selalu sinetron. Gak pernah gue nemuin tontonan lain macem olahraga, konser musik, apalagi berita. Paling kalo gak sinetronnya ya iklan yang lewat hwehehe...
Yang kedua pas gue lagi main-main di tempat sodara temen gue yang tinggal di daerah pesisir laut. Waktu itu berhubung udah malem gue kudu nginep dirumahnya. Sebenernya sih waktu itu gue pengen banget liat debat capres, tapi pas gue mau ijin buat minjem tivinya (gue gak bermaksud nyolong lho..), eh ternyata udah dipake duluan buat nonton sinetron.
Gak tanggung-tanggung, dari ba’da Maghrib sampe jam sebelas malem gak ada berhentinya. Tiap lagi iklan, ganti chanel sinetron yang lain. Gitu terus, satu keluarga pula, ngumpul semua. Cuma gue sama temen gue yang gue paksa buat nemenin gue di kamar (jangan parno lagi, temen gue itu juga cowok kok), barangkali temen gue itu sebenernya juga pengen nonton hehe... Akhirnya malem-malem gue habisin sambil mainan kartu.
Mungkin gak cuma dua keluarga diatas yang ngebet sama sinetron, pasti masih berjuta-juta keluarga yang doyan sinetron juga. Kebetulan aja, dua keluarga ini lagi apes jadi contoh gue, soalnya gue inget paling jelas cuma sama dua keluarga ini.
Jadi inget omongan salah satu guru gue dulu. Waktu itu beliau bertanya, “Mengapa Indonesia susah maju?”
Terus waktu itu ada yang nyelonong bilang, “Udah maju kok, Pak. Maju sebagai negara korupsi, negera teroris, sampe negara sumber musibah.”
“Bukan itu jawabannya, walaupun bener juga,” untung aja Pak Guru gak marah. “Soalnya di Indonesia terlalu banyak hiburannya, kayak di India. Film-film disana selalu menceritakan kebahagiaan semu, padahal sebenarnya kenyataannya jauh berbeda. Mereka selalu saja mendambakan hidup seperti di film, sama seperti di Indonesia yang terhipnotis dengan kehidupan di sinetron.”
Dasar itulah yang membuat gue mengikrarkan say no to nonton sinetron, walaupun dari dulu gue juga udah gak suka. Tapi berkat kalimat guru gue ini paling gak alergi gue tentang sinetron jadi bertambah.
Lucunya, pas ada sebuah berita yang lagi ngupas sebuah film, para pelaku dunia perfilman Indonesia ditanyai perkembangan film di negeri ini, mereka kompakan jawab, “Dunia perfilman Indonesia sedang berkembang ke arah yang baik dan benar.”
What? Baik apanya?
Apa film yang mengumbar seks, tidak mendidik dan selalu bercerita horor humor jorok yang disebut menuju kearah yang baik?
Tapi lama-lama gue ngerti juga maksud tersebut, cos kalo mereka gak jawab gitu bisa hilang sumber pendapatan mereka hehe..
Pembaca sekalian inilah akhir kisah gue kali ini. Memang cerita ini tidak lucu sama sekali, apalagi yang punya opini berbeda dengan gue, pasti udah kembang kempis kepelnya saking pengennya nonjok gue, ato pasti pengen gantung gue di terowongan casablanca, biar gue nemenin kuntilanak-kuntilanak yang haus akan kadatangan pria tampan (halah!)
Syukur kalo kita sependapat. Kalo gak ya silahkan bikin cerita sendiri buat nepis semua argumen-argumen gue. Berhubung ini cerita gue, ya terserah gue donk mau nulis apa.
Ini juga membuktikan kalo gue bukan sekedar penulis cerita humor, tapi juga kadang punya pikiran kotor dan berbakat menjadi provokator hawhahaha.. moga aja gak jadi koruptor.
***

Popular Posts