Minggu, 09 Desember 2012
JIKA SAYA SEORANG BUPATI
07.23
No comments
Setelah
pada tulisan sebelumnya sama berandai-andai menjadi ketua KPK, maka pada
tulisan kali ini saya ingin berandai-andai menjadi seorang bupati, khususnya di
tempat kelahiran saya Kabupaten Kebumen. Sebenarnya menjadi bupati bukanlah
khayalan yang muluk jika dibandingkan dengan pengandaian menjadi seorang ketua
KPK. Jika ingin menjadi ketua KPK, seseorang minimal harus berpendidikan S1
hukum, sementara jika ingin menjadi kepala daerah tidak ada persyaratan khusus.
Semua orang dari latar belakang apapun berhak mencalonkan diri, tak ada
persyaratan khusus tentang pendidikan, etnis, maupun pekerjaan. Yang menjadi
syaratnya ialah dukungan dari warga negara dengan memenangkan pemilukada.
Apalagi
modal saya tidak kosong-kosong amat. Setidaknya saya pernah mengenyam
pendidikan pada studi yang mempelajari politik dan pemerintahan. Saya sedikit
banyak tahu tentang dinamika politik, juga bagaimana kebijakan publik di buat.
Semoga itu berguna dalam memberikan imajinasi kepada saya tentang idealnya
seorang kepala daerah.
Sebenarnya,
cita-cita menjadi seorang bupat bukanlah cita-cita yang ada di benak saya sejak
dulu. Bahkan ketika memutuskan mengambil jurusan politik dan pemerintahan di
bangku universitas, saya belum berpikir menjadi bupati. Saya hanya merasa
politik adalah ilmu baru yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Padahal
keberadaan politik dekat dengan keseharian kita, disadari atau tidak.
Cita-cita
menjadi bupati sendiri baru ada dalam pikiran ketika berjalannya studi. Apalagi
setelah semakin tahu bahwa ternyata banyak tindakan-tindakan penyimpangan dalam
pengelolaan negara. Kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, korupsi kolusi
nepotisme, hingga bayangan negara ideal yang jauh dari kenyataan menjadi
konsumsi sehari-hari. Apalagi kekuatan civil society juga belum begitu kuat,
malah kadang dimanfaatkan para elit. Hal ini membuat koar-koar di luar
kekuasaan tidak ada gunanya. Maka, jika ingin melakukan perubahan harus berani
masuk ke dalam.
Berbicara
tentang kepala daerah, maka salah satu kewajibannya ialah membuat kebijakan
yang dapat memberikan keuntungan bagi para stakeholder. Sayangnya dalam
beberapa fakta sebuah kebijakan tidak bisa memuaskan semua pihak, oleh karena
itu dalam membuat kebijakan publik ada prioritas dan juga pilihan.
Prioritas
saya dalam membangun daerah bertuju pada peningkatan kesejahteraan masyarakat
berbasis potensi daerah. Hal utama yang akan saya lakukan ialah memberikan
prioritas kepada sektor pertanian. Saya ingin menjadikan Kebumen sebagai daerah
basis penghasil produk-produk pertanian. Potensi itu ada karena saat inipun
Kebumen dikenal sebagai penghasil beras, sayuran, buah seperti semangka, juga
kelapa yang digunakan untuk membuat gula merah/ gula jawa.
Saya
tidak tertarik menjadikan Kebumen sebagai daerah industri. Oleh karena itu saya
akan menyokong penuh program-program yang berkaitan dengan pertanian
diantaranya menyediakan berbagai bantuan produksi kepada para petani, membuat
komitmen bersama dengan para petani, melindungi komoditas lokal, juga berani
membeli hasil produk pertanian.
Bantuan
bagi para produsen pertanian yang bisa diupayakan diantaranya memberikan kredit
kepada petani, menyediakan sarana produksi yang mudah diakses dan terjangkau,
dan mengupayakan pertumbuhan produksi dengan tekonologi lokal. Sementara itu,
pemerintah juga akan mengupayakan terciptanya kontrak sosial dengan petani.
Dalam perjanjian tersebut petani berkewajiban menjaga lahan dan memproduksi
secara maksimal. Pemerintah sendiri akan meringankan biaya pajak lahan antara
20-25 persen, juga menjamin penjualan produk pertanian dari para petani dan
menyediakan kredit bagi kebutuhan sehari-hari petani.
Mengapa
sektor pertanian menjadi prioritas? Selain karena identitas Kabupaten Kebumen
adalam daerah agraris, pertanian juga merupakan sektor yang strategis. Saat ini
keberadaan lahan pertanian semakin menyempit karena terdesak untuk kebutuhan
industri dan perumahan. Padahal jika sampai terjadi krisis pangan, maka itu
adalah awal dari dimulainya berbagai krisis di sebuah negara. Maka sebagai
seorang kepala daerah, saya harus memastikan kebutuhan yang sangat penting
untuk masyarakat harus terpenuhi secara mandiri.
Program
prioritas kedua ialah memanfaatkan sektor pariwisata sebagai basis pendapatan
masyarakat. Akan dibuka seluas-luasnya bagi usaha di bidang ini diantaranya
dengan membangun foodcourt dan tempat kerajinan khas Kebumen, membantu promosi
dengan cara memberikan brosur wisata kebumen kepada setiap pegawai pemerintahan
yang berkunjung ke luar daerah, serta menggerakkan kebudayaan daerah.
Prioritas
lainnya berupa penyediaan ruang publik dan memangkas keberadaan parkir-parkir
liar. Saat ini di pusat kota khususnya, keberadaan ruang publik yang dapat
dinikmati siapa saja semakin berkurang. Hampir semua tempat berubah menjadi
ruang privat, yang baru dapat diakses setelah membayar. Oleh karena itu
pemerintah akan menguapayakan supaya membentuk ruang-ruang publik sebagai
tempat interaksi masyarakat. Parkir juga menjadi masalah serius karena selama
ini cenderung diabaikan. Padahal potensi pendapatan daerah dari sektor ini
sangatlah besar. Sayangnya hampir di semua tempat terjadi kebocoran dalam
pengelolaan parkir, begitu juga dengan keberadaan parkir liar yang semakin
tidak terkendali.
Terakhir,
di jajaran pemerintahan saya akan menekan biaya belanja pegawai dengan
memperketat perekrutan pegawai negeri. Akan dilakukan efisiensi dan efektifitas
supaya tidak ada PNS yang tidak punya pekerjaan. Saya juga akan meminta bantuan
ahli hukum yang secara khusus menaruh perhatian pada permasalahan korupsi untuk
menjadi penasehat, supaya dalam tindak tanduk saya nantinya terbebas dari
perilaku korupsi. Saya ingin menjadi orang yang berada paling depan dalam upaya
pemberantasan korupsi di daerah, khususnya yang dilakukan para aparatur negara.
Demikian
agenda yang saya canangkan jika saya menjadi seorang bupati. Memang pendidikan
dan kesehatan tidak menjadi prioritas dalam kebijakan saya, meskipun begitu
keberadaanya tetap penting. Semoga ketika nanti benar-benar menjabat, Kebumen
masih menjadi daerah agraris, juga menjadi daerah yang bebas korupsi dan
memiliki etos efisiensi dan efektifitas dalam bekerja supaya saya tinggal
malanjutkan program pemimpin sebelumnya. Sebetulnya saya juga ingin berbagi ide
ini dengan kepala daerah yang sekarang, namun sayangnya saya tidak memiliki
akses. Saya sangat senang jika ada kesempatan untuk membantu pemerintah dalam
mengupayakan kesejahtaraan dan perwujudan daerah Kebumen yang bersih.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Popular Posts
-
Akhir-akhir ini saya terusik dengan kata “oknum”. Maklumlah, saya tidak tahu apa arti kata ini, tapi setiap ada sebuah kejahatan, kekelirua...
-
Sebelum bercerita, gua mau jelasin judul diatas. MU itu bukan singkatan Muntah Ulet (hoek!), Makan Ulet, maupun Minum Ulet (kok bikin contoh...
-
Kali ini saya ingin menulis hal yang menjadi kegundahan saya dalam beberapa hari ini. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah karena saya tidak m...
-
Polemik di tubuh PSSI memasuki babak akhir. Berbagai aksi baik yang dilakukan dari dalam seperti membentuk Komite Penyelamat Persepakbolaan ...
-
Biasanya saya getol menyalah-nyalahkan pemerintah, tapi khusus untuk tulisan ini, saya ingin kita sadar bahwa sebenarnya juga kita sam...
-
Gak kerasa bentar lagi udah Agustus. Jadi inget lagi masa-masa SMA gue. Apalagi bulan Agustus juga bulan yang spesial buat almamater sekolah...
-
Baru saja saya mendengarkan perbincangan di sebuah televisi swasta nasional mengenai bursa calon ketua umum PSSI dan saya tergelitik untuk s...
-
Sebagai anak muda, wajar donk kalo kita pengen punya hubungan lebih ama lawan jenis. Begitu juga gue, walaupun gue gak tau apa yang mesti di...
-
Aku beruntung dibesarkan dalam lingkungan orang-orang yang melek baca. Meskipun bukan berasal dari kalangan berada dan harus banyak berhem...
-
Oleh Dimas Adiputra Asli 100% bukan plagiat Membela sebuah tim nasional merupakan pencapaian tertinggi dalam karier seorang pesepakbola. Ada...






0 komentar:
Posting Komentar