Perubahan
biasanya terjadi untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Perubahan dilakukan
karena ada sesuatu yang kurang pada pelaksanaan sebelumnya. Namun hakikat
perubahan tersebut tidak berlaku pada keberadaan kereta api Prambanan Ekspres
(KA Prameks), setidaknya apabila dilihat dari sudut pandang si pengguna. Dalam
setiap perubahan kebijakannya, Prameks justru menunjukkan wajah yang semakin
tidak bersahabat dengan para penumpang.
Naiknya
tarif hingga pengurangan jadwal merupakan satu dari sekian banyak perubahan
yang sudah terjadi dalam pengoperasian KA Prameks. Kini bertambah lagi perubahan
yang membuat Prameks semakin tidak nyaman digunakan sebagai transportasi umum,
yaitu terkait perubahan jadwal operasional KA Prameks. Perubahan yang berdampak
negatif ini dirasakan oleh penumpang yang menggunakan KA Prameks dari dan ke
Kutoarjo pada jadwal keberangkatan terakhir.
Dalam
jadwal KA Prameks terbaru, kereta terakhir yang berangkat dari Kutoarjo mundur
satu jam dari jadwal semula menjadi sekitar pukul 19.00. Hal itu berarti KA
Prameks yang berangkat dari Solo juga sampai di Kutoarjo pada jam 7 kurang.
Sepintas jadwal baru ini normal-normal saja, namun bagi sebagian masyarakat
pengguna, jadwal ini sangat tidak bersahabat dengan mereka terutama pada akhir
pekan dan saat libur panjang.
Sudah
bukan rahasia jika KA Prameks digunakan tidak hanya oleh masyarakat yang berdomisili
di daerah yang dilewati KA Prameks seperti Yogyakarta, Purworejo, maupun Solo,
namun juga daerah lain disekitarnya seperti Kebumen. Bagi masyarakat asal
Kebumen yang akan menaiki KA Prameks maka mereka harus terlebih dahulu pergi ke
stasiun Kutoarjo yang terletak di kabupetan Purworejo. Jarak yang lumayan jauh
karena Kebumen-Kutoarjo biasanya ditempuh selama satu jam menggunakan kendaraan
umum (bus), bahkan jarak Gombong (salah satu kecamatan paling barat di Kebumen)
– Kutoarjo waktu tempuhnya lebih dari 1,5 jam.
Masalah
muncul dengan jadwal baru KA Prameks karena kedatangan kereta di stasiun
Kutoarjo menjadi pukul 7 malam. Jika di hari biasa mungkin tidak menimbulkan
masalah, namun lain cerita apabila akhir pekan maupun libur panjang tiba. Pada
waktu-waktu tersebut penumpang pasti membludak bahkan tidak jarang banyak
penumpang yang kecewa karena tidak kebagian tiket. Apabila tidak kebagian
tiket, lalu mereka akan menggunakan moda transportasi apa mengingat setelah
Maghrib bis ekonomi lokal yang biasanya beroperasi dari Purwokerto-Jogja/Solo
dan sebaliknya sudah jarang ditemukan? Masyarakat hanya punya pilihan
menggunakan travel atau bus ekonomi lokal jarak jauh (AKAP) yang tentu tarifnya
lebih mahal jika dibandingkan dengan tiket KA Prameks maupun bus ekonomi lokal.
Tidak
hanya itu, jadwal baru KA Prameks juga membuat sebagian masyarakat yang turun
di stasiun Kutoarjo kesulitan mendapatkan angkutan yang bisa mengantarkan
mereka sampai Kebumen. Lagi-lagi setelah Maghrib jarang ada bus ekonomi lokal
yang lewat. Biasanya hanya ada satu bus jurusan akhir Kebumen-Gombong dan satu angkutan
jurusan akhir Prembun (wilayah Kebumen bagian timur) yang stand by di dekat
stasiun Kutoarjo. Bus dengan jurusan yang sama baru akan lewat setengah jam
lagi atau lebih.
Kondisi
ini membuat para penumpang dengan tujuan akhir Kebumen-Gombong harus berdesakan
di dalam bus. Penuhnya penumpang di dalam bus seperti saat musim mudik lebaran
tiba. Bus yang sudah penuh terus dipaksakan untuk memuat lebih banyak orang
karena memang banyak orang yang mengantri untuk naik. Sungguh sebuah
pemandangan yang tidak manusiawi, tapi bagaimana lagi hanya dengan cara ini
mereka bisa bertemu keluarga kembali.
Jika
sudah begini, dimanakah peran negara? Bukankah salah satu tugas negara adalah
memberikan pelayanan publik? Seharusnya negara tidak hanya sekedar memberikan
pelayanan, namun juga harus melayani dengan baik supaya masyarakat merasa
nyaman. Sayangnya pengoperasian KA Prameks dengan malah memberikan contoh
sebuah pelayanan publik yang buruk. Perubahan yang dilakukan tidak
memperhatikan kebutuhan masyarakat penggunanya karena pastilah saat keputusan
tersebut dibuat masyarakat memang tidak dilibatkan.
Saya
sangat berharap PT KAI mau mengubah kembali jadwal KA Prameks dengan waktu yang
lebih bersahabat, terutama bagi para penumpang yang tidak berasal dari daerah
yang dilewati KA Prameks. Mahasiswa dan para pekerja sebagai golongan penumpang
terbesar sangat membutuhkan keberadaan KA Prameks karena moda transportasi
inilah yang dirasa cocok dengan kantong mereka. Ketergantungan masyarakat
terhadap KA Prameks seharusnya tidak malah disikapi dengan peraturan-peraturan sekarepe dewe oleh para pengambil
kebijakan. Apalagi bukankah pemerintah sendiri yang menghimbau kepada
masyarakat supaya menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi? Jika
transportasi umunya saja tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat, maka jangan
salahkan masyarakat jika enggan menggunakan kendaraan umum. Contohnya ya saya
ini yang lebih sering menggunakan kendaraan pribadi untuk pulang pergi
Kebumen-Jogja. Gunakan KA Prameks seperlunya saja selama kebijakan-kebijakannya
tidak menyulitkan kita.
HIDUP
KENDARAAN PRIBADI SELAMA LOGIKA NEGARA DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN PUBLIK BERUPA
MODA TRANSPORTASI UMUM MASSAL TERKESAN SETENGAH HATI!
setuju banget.. dulu awalnya pramex rusak, trs di ganti madiun,sriwijaya.. mungkin dah merasa untung yang diatas jadi males normalna kaya bien..
BalasHapus